KEPEDULIAN YANG SEMU

Pagi itu, di kala badanku bercucuran keringat, aku duduk di sebuah kursi panjang dari besi bersama dengan murid-murid lainnya yang hanya kukenal beberapa saja, mungkin hanya teman-teman yang sekelas denganku karena aku baru saja masuk Madrasah Tsanawiyah Arrahmah beberapa minggu ini.  Aku memijat pelan kakiku yang pegal karena harus dibuat berlari keliling lapangan oleh mata pelajaran olahraga hari ini.

“Mahirah!” Seseorang memegang pundakku tiba-tiba.

“Astaghfirullah!” Aku terperanjat sampai hampir saja jatuh ke belakang, untungnya aku bisa menjaga keseimbangan. Tapi yang paling menyebalkan adalah suara Naura tertawa terbahak-bahak melihatku yang telah menjadi korban ulahnya.

”Ini nih es teh manis kesukaanmu.” ujar Naura seraya memberikanku sebungkus es teh manis yang entah dia dapatkan dari mana.

Oh iya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Mahirah Halwatuzahra, aku berkulit putih pucat dan memiliki bulu mata serta alis yang hitam lebat sehingga membuatku lebih mencolok dari yang lain. Sedangkan yang mengejutkanku tadi namanya Naura Daisha, dia adalah sahabatku sejak duduk di bangku Madrasah Ibtida’iyah dan sekarang malah kembali dipersatukan di Madrasah Tsanawiyah. Naura adalah tipe anak yang suka bercanda, walaupun dalam keadaan genting pun, akan selalu di buat santai oleh Naura.

“Itu anak-anak yang pada ikut ekstra kurikuler voli ya?” tanyaku pada Naura yang sedang ngemil keripik singkong.

“Iya, mereka lagi latihan.” jawab Naura.

Aku dulu ingin sekali bisa bermain voli, tapi aku selalu takut di saat bola voli melayang kearahku. Mantap sekali apabila melambung di kepalaku. Aku mengamati permainan voli mereka dan terkadang ikut merasa senang apabila ada yang mencetak skor.

Saat sedang asyik melihat bola voli yang bagaikan terbang ke sana kemari tiba-tiba bola voli itu terbang terlampau jauh dan seperti mengarah kepadaku. Oh bukan, bola itu tidak mengarah padaku tapi pada seorang siswi lain yang berada di sampingku. Bola itu semakin lama semakin mendekat, dan parahnya lagi bola itu seakan ingin menghantam kepala siswi yang ada di sampingku. Dengan cepat aku langsung memukul bola itu menggunakan telapak tanganku. Rasa sakit yang berada di kaki seakan-akan berpindah ke tangan.

“Ya Allah kamu gak kenapa-kenapa kan?” Perempuan yang kepalanya dalam bahaya tadi otomatis terkejut.

“Astaghfirullah Mahirah, tanganmu jadi merah tuh,” ungkap Naura ikut merasa kaget. Aku menatap sendu pada tanganku yang memerah seperti digigit semut satu kampung. Dari kejauhan, aku melihat pelatih voli berlari kecil kearahku.

“Saya minta maaf karena akibat ulah anak didik saya, tangan kamu jadi seperti ini. Saya benar benar minta maaf.” pelatih itu membungkukkan punggungnya di depanku.

“Jangan bungkuk ke saya Pak, bagaimanapun juga saya jauh lebih muda dari bapak. Saya tentu mau memaafkan, lagi pula kejadian ini kan tidak disengaja,” jelasku pada orang yang telah berjasa membuat Madrasah ini selalu mendapatkan juara lomba voli berturut-turut.

“Terima kasih ya nak. Ngomong-ngomong saya salut pada kamu, karena mau berkorban untuk membantu temanmu yang lainnya,” kata sang pelatih seraya berdiri tegap kembali.

“Saya tidak berkorban apapun Pak. Saya hanya menanamkan sikap peduli pada diri saya,” ucapku dengan senyuman yang sedari tadi belum luntur dari wajahku. Sang pelatih langsung pergi sambal tersenyum lebar.

“Seharusnya kamu gak usah nolongin aku tadi” ucap perempuan yang aku tolong, setelah pelatih itu kembali di posisinya tadi.

“Yang nolong itu bukan aku, tapi Allah. Cuman perantaranya lewat aku” kataku merendah.

“Ini untuk kamu sebagai rasa terima kasihku” siswi itu menyodorkan uang sepuluh ribu kepadaku.

“Aku ikhlas membantu karena peduli, kamu gak usah kasih aku imbalan” aku langsung berpindah tempat ke belakang Naura untuk menjauhi selembar kertas yang dimulia-muliakan banyak orang itu.

“Eh eh kok dikasih ke aku?” Naura kebingungan melihat perempuan itu yang malah memberikan paksa uangnya di telapak tangan Naura.

“Naura balikin uangnya, aku gak mau dikasih uang!” suruhku pada Naura. Dengan cepat Naura memasukkan uang itu di saku celana olahraga siswi itu secara paksa juga. Siswi itu langsung terdiam.

“Kalian berdua mau jadi temanku? Aku belum menemukan teman yang aku sukai sampai saat ini” Kata siswi itu. Aku dan Naura saling bertatapan beberapa detik. Setelah itu kita berdua kembali menatap siswi itu yang sedang tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya.

“Boleh juga, namaku Naura Daisha dan yang di belakangku ini namanya Mahirah Halwatuzahra, kami kelas 7A” Naura membalas uluran tangan siswi itu.

“Namaku Zia Elakshi, kelas 7B” ucap Zia memperkenalkan diri.

Aku dan naura berjabatan tangan dengan teman baru kami itu. Dalam sekejap, rasa sakit di tangan maupun di kakiku langsung lenyap begitu saja, digantikan dengan suasana hatiku yang bahagia karena akhirnya aku memiliki dua teman baik.  Kita bertiga mengobrol bersama, ditambah dengan candaan-candaan yang terkadang garing juga. Zia adalah anak yang mudah diajak berbicara, sepertinya dia tipe yang mudah akrab dengan orang lain. Sampai pada saat aku yang tidak sengaja melihat Ketua Kelasku berjalan dengan tergesa-gesa menuju tempatku duduk.

“Mahirah, disuruh Bu Ratna ke kantor!” perintah sang Ketua Kelas yang sekarang sudah berdiri di depanku. Bu Ratna adalah Guru Bahasa Indonesia merangkap menjadi Wali Kelasku dan Naura. Beliau adalah Guru yang paling akrab denganku, bisa dibilang Bu Ratna itu guru favoritku.

“Sip deh Pak Ketu” jawabku sambil mengacungkan jempol.

Murid di kelasku memang suka memanggil Ketua Kelas kami dengan nama ‘Pak Ketu’. Padahal sang Ketua Kelas sendiri sudah berkali-kali bilang untuk berhenti memanggilnya ‘Pak Ketu.’ Tapi julukan itu sudah mendarah daging diantara teman-teman kelasku.

Aku beranjak pergi ke kantor setelah izin kepada Naura dan Zia. Setelah dua menit berjalan, akhirnya aku tiba di depan pintu kantor yang saat itu sudah terbuka. Walaupun sudah terbuka lebar, aku tidak akan pernah langsung nyelonong masuk kantor. Kalau kata Naura sih “Akhlak tetap nomer satu sister”.

“Assalamualaikum” salamku yang masih berdiri di depan pintu.

“Waalaikumsalam, silahkan masuk” dari dalam kantor aku dapat mendengar suara Bu Ratna menjawab salamku. Akhirnya, aku masuk ke dalam ruangan yang terletak di samping perpustakaan itu.

“Ayo, silahkan duduk disini Mahirah!” seperti perintah Bu Ratna, aku duduk di sebuah kursi yang berada tepat di hadapan tempat duduk Bu Ratna.

“Jadi begini, Madrasah kita mau mengikuti Perlombaan Menulis Novel Fantasi. Untuk Juara 1 akan di berikan hadiah berupa uang pembinaan, sertifikat, serta novel yang telah ditulis nanti akan dibukukan dan dibagikan ke seluruh perpustakaan serta diperjual belikan di seluruh Gramedia yang ada di Provinsi Jawa Timur” jelas Bu Ratna panjang lebar.

“Tujuan Ibu memberikan tugas kepada seluruh murid kelas 7 membuat cerita pendek bergenre fantasi adalah untuk mengetahui siapa yang paling bagus dalam membuat cerita fantasi. Ternyata karya kamu yang paling Ibu suka dari pada cerita-cerita buatan temanmu yang lain. Jadi, Ibu ingin kamu mengikuti perlombaan ini.” Kata Bu Ratna.

Mendengar penuturan Bu Ratna, aku langsung terdiam membeku beberapa saat. Bagaimana bisa aku mengikuti perlombaan sebesar ini. Memangnya aku punya bakat? Oh tentu tidak, aku hanya menulis cerita karena aku bosan saja. Aku tidak merasa mempunyai keahlian dalam bidang ini.

“Saya minta maaf Bu Ratna. Sepertinya saya tidak bisa mengikuti perlombaan ini. Saya tidak memiliki kemampuan dalam membuat karya cerita seperti yang Bu Ratna sebutkan tadi. Dari pada saya memperkeruh nama Madrasah, lebih baik Bu Ratna mencari murid yang lainnya untuk mengikuti perlombaan itu. Saya permisi dulu Bu.” Aku bergegas berdiri dari dudukku dan langsung pergi keluar begitu saja tanpa ijin Bu Ratna. Sepertinya aku juga harus meminta maaf pada Naura karena tidak mematuhi perkataannya.

Di perjalanan kembali ke kelas, aku tidak henti-hentinya memaki diriku sendiri dalam hati. Aku sudah berperilaku tidak sopan pada Bu Ratna yang merupakan Guru kesukaanku sendiri. Aku juga telah mengecewakan Bu Ratna dengan cara menolak untuk menjadi perwakilan Madrasah ini dalam mengikuti perlombaan menulis novel fantasi. Sekarang, aku merasa bagaikan murid paling durhaka di seluruh dunia. Oh tidak, bahkan mungkin di seluruh alam semesta.

Pelajaran demi pelajaran sudah berlalu. Sekarang adalah waktu yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua murid dibelahan dunia manapun. Iya benar, jam pulang Madrasah.

Matahari siang ini benar-benar bersahabat denganku. Sinarnya sangat terang tetapi tidak panas sama sekali, di campur dengan sepoi-sepoi angin yang dapat menggugurkan daun-daun kering di pepohonan yang berada di tepian trotoar. Setiap hari aku berangkat dan pulang dengan berjalan kaki karena jarak rumahku dan Madrasah tidak begitu jauh. Biasanya aku selalu berjalan kaki bersama Naura, tapi hari ini Naura sedang ikut ekstrakulikuler tata boga. Sehingga membuatku harus pulang sendirian.

Aku melangkahkan kakiku perlahan sambil terus melihat jalan yang di penuhi dengan kendaraan yang berbahan bakar bensin itu. Ada yang beroda dua dan ada juga yang beroda empat.

“Meow meow meow” aku menghentikan langkah kakiku saat telingaku samar samar mendengat suara kucing mengeong.

Aku berputar-putar di sekelilingku mencari keberadaan kucing yang sampai sekarang masih bersuara. Pandanganku berhenti di sebuah selokan yang didalamnya terdapat anak kucing yang masih lumayan kecil. Tanpa pikir panjang, aku bergegas berlari menuju selokan itu. Baru saja aku sampai didepan selokan, baunya sudah benar-benar bagaikan sisa-sisa metabolisme manusia. Menjijikkan sekali.

Aku sempat ragu ragu untuk menolong kucing itu naik. Tapi rasa peduliku pada anak kucing itu ternyata dapat mengalahkan rasa jijikku pada selokan yang membuat anak kucing itu terperangkap.  Aku segera melengkit lengan seragam Madrasah ku agar tidak kotor saat tanganku sedang berkelana ke dalam selokan. Pelan-pelan aku mengambil kucing itu dan menaikkannya kembali ke atas.

“Alhamdulillah,” ucapku.

Anak kucing itu langsung lari setelah aku menurunkannya yang membuatku tersenyum lebar. Sekali lagi, aku merasa senang karena bisa memiliki rasa peduli bagaimanapun situasinya. Karena menurutku, kebaikan sekecil apapun, kelak bisa membantumu suatu saat nanti. Tidak menunggu lama, aku kembali berjalan lagi untuk pulang kerumah. Ingin sekali segera berleha-leha di kasur kesayanganku.

“Assalamualaikum” salamku seraya melangkah masuk kedalam rumah.

“Waalaikumsalam” jawab Bunda yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.

Aku mengecup punggung tangan seorang wanita hebat yang merawatku dari masih janin hingga tumbuh sebagai remaja seperti ini. Aku penasaran apa yang ditayangkan televisi. Lagi-lagi Bundaku menonton sinetron kesayangannya yang terkesan sangat aneh. Benar-benar sinetron yang diluar nalar manusia. Bagaimana bisa ada mayat yang terlempar hingga digiling molen?

Aku ikutan duduk disofa, tepat di samping Bunda dengan seragam putih biru yang masih melapisi kulitku. Sedangkan tasku sudah aku taruh di meja berbahan dasar kayu jati yang berada di depan sofa.

“Tadi Bu Ratna telepon Bunda. Kenapa kamu gak mau ikut lombanya?” aku menelan ludah kasar. Bingung harus menjawab apa pada Bunda.

“Lagi males aja Bun” aku berbohong. Sebenarnya aku tidak malas. Hanya sedang berpikir, apakah aku bisa?

“Halah cuman gitu aja males. Dulu Bunda berangkat sekolah tuh jalan kaki, padahal jaraknya lebih jauh lagi dari pada Madrasah kamu. Mana jalannya tuh belum sebagus sekarang. Susah lah intinya,” curhat Bunda membuatku menghembuskan nafas tanda malas.

“Bunda, dulu tuh Ali bin Abi Thalib pernah bersabda” ujarku dengan mimik muka serius.

“Gimana?” tanya Bunda ikut serius.

“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu” jelasku sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Halah” seperti itulah jika Bunda sudah kalah. Aku tertawa jahat sambil berjalan bagaikan Putri Kediri menuju kamar. Bunda yang melihatnya langsung melengos.

Setelah sampai di kamarku yang terletak di lantai dua, aku bergegas menutup pintu dan tak lupa menguncinya juga. Dengan cepat aku melayang di pulau kapuk yang selalu aku pergunakan untuk bermalas-malasan. Aku mulai memikirkan tentang perlombaan yang diajukan padaku itu. Di sisi lain aku ingin sekali berpartisipasi dalam perlombaan, sedangkan di sisi lain lagi aku merasa tidak ingin mengikutinya.

Aku memandangi langit-langit kamarku yang plafonnya digambari dengan matahari dan delapan planet yang setiap saat selalu memutari pusat Tata Surya tersebut, di tambah dengan taburan bintang di sekelilingnya menambah kesan langit malam yang indah. Disamping lemariku, terdapat rak buku yang berisi banyak buku-buku novel bergenre fantasi seperti serial Harry Potter karya J.K. Rowling, Serial Bumi ciptaan Tere Liye, The Paper Magician dari Charlie N. Holmberg, Strange The Dreamer milik Laini Taylor, Serial Penjelajah Antariksa tulisan Djokolelono dan masih banyak lagi buku-buku milikku. Jika diamati, aku bahkan sepertinya tidak memiliki buku selain yang bergenre fantasi.

Disamping ranjangku terdapat meja belajarku yang diisi dengan tumpukan buku tebal layaknya novel, padahal itu adalah buku-buku yang aku gunakan untuk menulis karangan-karanganku saat aku senggang. Sudah ada delapan tumpukan buku. Aku tidak menyangka sudah menciptakan delapan judul cerita saat ini. Hanya dengan bermodalkan mengamati ruangan kamarku yang didominasi dengan warna biru dongker ini, aku mulai mengantuk. Aku tertidur pulas hanya dengan sekali menutup kedua kelopak mata.

Keesokan harinya, aku berangkat menuju Madrasah untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Tapi kali ini aku berangkat lebih pagi dari biasanya.  Aku menghabiskan waktuku merenung di dalam perpustakaan. Dari kemarin, aku masih memikirkan perlombaan itu. Aku takut salah memilih keputusan. Aku tidak ingin menyesal.

“Loh, ada Mahirah” spontan aku menoleh pada suara yang memanggil namaku.

“Eh ada Pak Dirga” sapa ku kembali dengan logat yang sama. Pak Dirga adalah Guru BK di Madrasah.

“Lagi mikirin lomba ya?” Pak Dirga memang juara dalam menebak. Aku hanya bisa meringis sambil mengangguk pelan.

“Kenapa kamu nolak perlombaannya?” Kata Pak Dirga seraya duduk di kursi yang berada di depanku.

“Saya merasa tidak bisa menjadi juara Pak. Saya tidak pernah serius dalam membuat cerita. Hanya sepintas ide saja. Lagi pula saya tidak merasa punya keahlian” jawabku sambil menunduk yang entah kenapa membuat Pak Dirga tersenyum.

“Kamu punya keahlian Mahirah, hanya saja kamu kurang peduli pada keahlianmu” mendengar pengucapan Pak Dirga, membuatku yang tadinya menunduk langsung mengangkat wajahku menghadap Pak Dirga.

“Kamu itu berbakat Mahirah. Kamu ahli dalam bidang ini!” aku hanya tertawa dalam hati. Pak Dirga berkata seperti itu hanya untuk membuatku senang saja, agar mau ikut perlombaan.

“Tapi kamu tidak pernah peduli dengan bakatmu” entah mengapa perkataan Pak Dirga membuat hatiku bagaikan disambar petir. Aku seperti disindir.

“Keahlianmu itu butuh kepedulian. Jika kamu hanya memendamnya saja dan tidak mau maju, bagaimana bisa berkembang. Kamu merasa tidak memiliki keahlian juga karena kamu tidak memedulikan bakatmu itu. Memangnya kamu tidak kasihan dengan bakatmu yang tidak pernah kamu pedulikan” aku kembali menunduk, ucapan Pak Dirga tidak ada yang salah.

“Bagaimana caranya peduli dengan keahlianku Pak?” akhirnya aku mulai bersuara setelah lama bungkam.

“Ikuti perlombaan ini!” aku kembali terdiam.

“Ini kesempatanmu, kamu harus segera menentukan. Sebagai murid Madrasah Tsanawiyah Arrahmah, saya yakin kamu tahu apa yang terbaik” kata Pak Dirga.

Akupun akhirnya merenung. Benar sekali kata Pak Dirga, aku harus bangkit. Sampai kapan lagi aku harus mancampakkan keahlianku ini. Sampai kapan lagi aku merasa bahwa tidak punya bakat

“Iya Pak, saya sudah memilih!” suaraku lantang sambil berdiri, sampai membuat kursi yang aku duduki terjungkal ke belakang. Sorot mataku penuh dengan semangat, tubuhku sangat membara saat ini.

“Saya permisi, mau cari Bu Ratna dulu Pak. Makasih pencerahannya” Pak Dirga tertawa melihatku yang tiba-tiba antusias seperti akan bertamasya ke Mars.

Aku berlari mencari-cari Bu Ratna. Saat sedang berlari, mendadak kedua mataku ini menangkap seorang Bu Ratna yang sedang berjalan menuju kelasku, Kelas 7A.

“Assalamualaikum, Bu Ratnaaaa!” salamku yang masih berlari ini. Bu Ratna yang mendengar langsung menoleh melihatku yang berlari bagaikan rusa dikejar harimau.

“Waalaikumsalam, Mahirah. Jangan lari-lari, kalau jatuh ya bengkak semua badanmu nanti hahaha” Bu Ratna malah melawak disaat aku sedang ngos-ngosan akibat berlari dari tadi.

“Bu Ratna, saya mau ikut lombanya!” kataku langsung pada intinya dengan suara tegas dan penuh semangat bagaikan api yang berkobar.

“Baiklah, kamu diberi waktu empat pekan untuk berkarya. Semangat Mahirah!” Aku berhasil membuat pilihan yang benar, aku berhasil peduli dengan keahlianku. Dengan keringat yang masih membasahi keningku, aku tersenyum lebar. Bangga dengan diriku sendiri.

Lima pekan sudah berlalu. Ini adalah hari yang paling membuat jantungku berdegup kencang, hari ini adalah pengumuman pemenang dari perlombaanku. Selama empat pekan, aku mengisi waktu hanya untuk menulis dan menulis. Dimanapun aku selalu membawa sebuah buku dan satu bolpoin hitam. Selama hari-hari itu, banyak sekali yang berubah menjadi sebuah keindahan bagiku. Bundaku yang jadi tidak pernah menyuruhku untuk sekedar menyapu rumah, Guruku yang tidak pernah memberiku tugas lagi, dan para murid Madrasah yang setiap hari memberikanku jajanan dari kantin. Bagaikan surga dunia hahaha.

Seperti jam istirahat biasanya, aku dan dua remaja perempuan yang aku anggap sahabat ini sedang duduk di bangku paling pojok kantin.  Aku berkali-kali menengok kesebuah speaker yang dipasang di dinding kantin. Biasanya, jika salah satu murid Madrasah kami menjadi pemenang sebuah perlombaan, maka akan diumumkan di speaker itu di saat waktunya istirahat.  Aku sudah menunggu dari tadi, bahkan sekarang tinggal beberapa menit saja jam istirahat berakhir. Harapanku sudah benar-benar pupus. Mungkin aku kalah.

“Eh eh di speaker ada suara nih” kata Zia sambil menolehkan wajahku dengan paksa agar segera melihat speaker.

“Selamat untuk Juara 1 Perlombaan Menulis Novel Fantasi, Mahirah Halwatuzahra. Untuk hadiahnya akan segera menyusul. Terus semangat dan tetaplah peduli dengan keahlianmu!”

Aku mendengar namaku disebutkan, suara itu adalah suara Pak Dirga. Tapi yang membuatku lebih bahagia lagi adalah… Aku Juara 1. Aku tersenyum lebar dengan badan yang masih kaku. Naura, Zia dan semua murid yang ada di kantin sudah heboh mengucapkan selamat sejak tadi.  Aku benar-benar tidak menduganya. Takdir Allah memang selalu baik. Andaikata jika menurutmu buruk maka itu tetap baik. Karena yang terbaik bagi Allah adalah yang terbaik bagimu, tapi yang terbaik bagimu belum tentu yang terbaik bagi Allah. Tapi sekarang, Allah mengatakan yang terbaik bagiku adalah yang terbaik bagi Allah.

Selama ini, aku mengira peduli hanya pada manusia, hewan serta hal-hal yang ada di sekitarku. Tapi ternyata aku salah, peduli itu juga berlaku pada hal yang ada didalam diri kita sendiri. Yaitu keahlian kita, bakat kita, hobi kita, hal yang kita sukai. Semua itu juga membutuhkan kepedulian. Jika kalian tidak peduli, bagaimana bisa berkembang?

Madrasahku ini membuatku menjadi lebih mendalami arti peduli serta bisa  memupuk rasa peduli yang telah aku tanamkan sejak dulu. Bahkan menurutku seluruh murid di Madrasah ini semuanya dianugerahi hati yang baik, mereka saling menghargai, saling peduli, dan saling mendukung.

Semakin aku mengenal banyak tentang Madrasahku, semakin bertambah pula semangatku untuk berangkat menuntut ilmu disana. Madrasahku bagaikan surga untukku dalam menempuh pendidikan dan belajar tentang kepedulian, serta mengembangkan keahlianku. Madrasahku adalah surgaku.

Farhana Natasya Ebila D.T.A.Z.S, biasa dipanggil Farhana, merupakan murid kelas 7A di MTS. Arrahmah. Gadis kecil ini, lahir di Kediri pada tanggal 27 Februari 2008. Farhana tinggal di Jl. Raya Jongbiru No. 7 Kabupaten Kediri. Hobi yang ditekuni adalah menulis cerpen, membaca buku novel genre fantasy dan drama, belajar, dan sebagainya.

Berhasil meraih peringkat 5 pada Lomba cerpen di BKMS Kab. Kediri

One Reply to “KEPEDULIAN YANG SEMU”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *