JALAN SURGAKU

Titin Agustini

Hai kenalin nama aku Titin Agustini, bisa dipanggil Khotim. Aku duduk di bangku sekolah MTs. Al Basir kelas 8. Tetapi, sekolah di sini bukan kemauanku karena terbawa lingkungan rumah. Aku dulu sangat nakal, sampai berbeda dengan kakak-kakakku.

’’Kamu kok beda banget sama kakak-kakakmu to?,’’ ucap tetanggaku yang bernama Tasya. Hal yang membuat aku patah semangat.

Keinginanku dari dulu adalah sekolah SMPN Taruna. Agar bisa lebih dekat dengan teman-temanku. Tetapi kedua orang tuaku bahkan keluargaku dan kakek nenekku tidak menghendaki  jika aku skolah SMP.  Sebenarnya aku tidak mau sekolah di madrasah. Apalagi aku diolok-olok sama teman-temanku jika sekolah di MTs.

’’Kamu kok mau to, sekolah di sana. Padahal itu sekolah kuno. Sekolah itu di SMP, sekolah modern, sekolah top,’’ ucap temanku yang bernama Vira. Mendengar ucapan Vira aku jadi malu jika harus skolah di madrasah. Tapi mau tidak mau aku harus tetap sekolah di MTs.

Suatu malam aku menangis karena aku nggak mau sekolah di MTs. Ibuku marah dan hampir menampar aku. Soalnya aku membantah dan keras kepala mau sekolah di SMP.

Ayahku pulang kerja. ‘’Ada apa ini bu,?’’ tanya ayahku dengan muka bingung.

‘’Udahlah, Yah kalau dia nggak mau sekolah di MTs. biar sekolah di pondok pesantren,’’ ucap ibuku dengan muka kesal.

Karena aku takut kalau sekolah di pondok, akhirnya aku mendengar omongan ibuku aja. Meskipun mengganjal rasanya jika harus sekolah di MTS.

Tinggal menghitung hari sudah masuk sekolah. Mentalku belum siap dan aku juga belum menyiapkan apa apa. Keesokan harinya ibuku mengajak aku ke sebuah toko buku untuk beli perlengkapan sekolah. Tapi aku tidak mau ikut dengan alasan nggak enak badan supaya ibuku tidak marah. Kurang dua hari masuk sekolah aku semakin tidak yakin dan semakin gugup.

Teman-temanku tetap mengolok-olok aku jika aku sekolah di MTs. Hingga membuat aku patah semangat. Sampai aku berpikiran tidak mau lanjut sekolah dan mau pergi dari rumah. Karena ayah ibuku tidak menghendaki jika aku sekolah di SMP.

’’Kamu nggak mau sekolah di MTs. hanya karena gengsi sama teman-temanmu? Kamu gila to,?’’ ucap kakakku yang membuat aku semakin stress. Akhirnya mau tidak mau aku tetap sekolah di MTs.

Minggu malam tepatnya H-1 masuk sekolah swasta. Campur aduk rasanya. Pingin banget yang namanya keluar dari rumah.  Karena berasa seperti di penjara menurut aku haha. Hari semakin malam aku semakin gak bisa tidur bahkan aku merasa kalau aku demam. Semalaman nangis tanpa suara. Akhirnya akupun tertidur sampai bangun-bangun adzan Subuh. Aku semakin grogi untuk memulai sekolah baru. Aku membayangkan tentang kehidupan baru hingga aku rasa pasrah untuk berangkat sekolah dengan badan lemas, serta muka lesu.

Ibu menyuruhku untuk mandi. Ibu sudah menyiapkan baju yang mau aku pakai untuk sekolah. Ibu juga menyiapkan sarapan dan sudah mengelap sepeda yang mau akau pakai untuk berangkat pulang sekolah. Ibu menyuapiku sarapan. Tak lupa memberiku uang saku. Dengan kasih sayangnya, ibu mengantar aku sampai ke gerbang depan rumah/

‘’Nakkk??? Kamu sakit? Wajahmu terlihat pucat,’’ tanya ibu sambil mengelus   kepalaku.

‘’Tidak, Bu…,’’ jawabku sambil tersenyum.

Hari pertama aku sekolah di MTs. Al Basir dengan muka lesu. Terpaksa aku berangkat dengan diantar ibu. Hingga kembali pulang sekolah ibu tetap menanyakan apakah kondisiku sedang sakit. Akupun kembali mnejawab bahwa aku kondisiku baik-baik sambil memeluknya. Aku bercerita bahwa aku belum mempunyai kenalan teman baru. “Muridnya sedikit , Bu…,” ceritaku pada ibu.

Dalam jangka waktu dua mingguan aku sudah hampir dekat dengan teman-teman MTS. Namun bukan berarti aku tidak ada masalah. Sebulan pertama aku sekolah di sana sudah merasa bosan. Sekolah di MTs., pelajaran yang itu-itu saja. Teman yang itu-itu saja. Bahkan kegiatan yang itu-itu saja.

Suatu siang, aku pulang sekolah aku berbicara pada ibuku. ‘’Bu, aku bosan banget sekolah di MTS.’’

‘’Dinikmati saja, Nak … disyukuri,’’ dengan senyum lebar ibu memberi ku sepiring nasi.

Suatu saat aku diajak temanku yang bernama Astrid untuk pergi main ke sebuah tempat. Astrid adalah temanku MTs. Dia orangnya baik. Sesampai di sebuah tempat wisata aku bersenang-senang.

‘’Tin, gimana? Seru kan,?’’ tanyanya sambil tertawa haha hihi

‘’Iya, Trid… seru banget,’’ aku menjawab sambil menggandeng tangan Astrid. Kami bersenang-senang saat itu. Waktu sudah siang watunya pulang. Sesampai di rumah aku mulai lega dan aku juga sudah tidak merasa bosan dengan teman-temanku. Tapi kurang paham dengan pelajaran yang aku terima di madrasah. Aku cemas karena besok sudah hari senin. ‘’Kembali lagi ke pelajaran membosankan dan guru yang membosankan,’’ gerutuku.

Dua sudah, waktu berjalan semakin lama aku semakin bosan dengan kegiatan hariannya. Pelajaran yang banyak dan teman yang membosankan. Meskipun aku masuk kelas unggulan tapi aku tetap tidak suka sekolah di sini. Bahkan aku sebenarnya sudah berpikiran mau mogok sekolah. Aku tetap ingin sekolah di SMP bareng teman-temanku SD. Tetapi aku selalu mengingat perjuangan ayah dan ibuku.

Bulan ke empat, aku terpilih sebagai calon OSIS. Tepatnya di tahun pelajaran 2019/2020. Sebenarnya aku tidak mau tapi aku dipaksa oleh waka kesiswaan. Pihak madrasah dan teman-teman, lumayan banyak yang mensuport aku. Dengan terpaksa ku terima tawaran tersebut. Satu minggu pencalonan OSIS ternyata aku terpilih sebagai wakil OSIS di MTs. Al Basir. Sementara di kelasku juga menjadi bendahara.

Setelah berbulan-bulan aku sekolah di MTs. Al Basir aku ikut beberapa kegiatan. Kegiatan tersebut seperti OSIS, pengurus kelas, kelas tahfid, kelas unggulan, dll.

‘’Ternyata semakin lama semakin membosankan ya,’’ ucap aku dalam hati. Tetapi ada guru yang berbicara kepadaku sekaligus memberi nasihat dan memberi motivasi.  Namanya bu Arsun. Beliau adalah guru yang sangat ramah dan baik hati.

’’Ayo semangat jangan pantang menyerah. Jangan putus asa.. buktikan ke orang tuamu bahwa kamu bias. Bahagiakan mereka dan buktikan ke teman-temanmu bahwa kamu tidak sia-sia sekolah di MTs. Al Basir,’’ ucap guruku sambil duduk di sampingku. Mendengar nasihat dan motivasi dari guruku aku semakin semangat dan mencoba satu demi satu tahap berbagai kegiatan.

Dengan aktifnya aku di berbagai kegiatan, aku bersama Astrid  gabung di salah satu organisasi Pramuka. Namanya Matahari. Organisasi ini salah satu kebanggaan madrasah. Tidak hanya itu, organisasi ini juga organisasi terfavorit di madrasah. Organisasi ini lumayan maju pernah memenangkan di berbagai lomba pramuka. Baik di tingkat kabupaten, eks karisidenan, bahkan provinsi Jawa Timur lo … Hingga aku bangga menjadi bagian dari organisasi ini.

Suatu hari ada pemilihan pengurus Matahari. Aku terpilih sebagai calon pengurus, yaitu sebagai wakil pimpinan regu atau juga wapinru. Aku sebenarnya tidak menyangka kalau terpilih sebagai wapinru. Rasa grogi dan takut menjadi satu ketika disuruh Pak Eko maju memberi sambutan ke siswa siswi lain. Aku berusaha percaya diri. Menutupi rasa gerogi dengan wajah tersenyum lebar. Ku beranikan diri maju di hadapan banyak orang.

‘’Wauuu ternyata begini ya rasanya menjadi seorang wapinru,’’ ucap aku dalam hati. Begitu turun dari atas panggung sambutan, aku menyadari bahwa tidak mudah menjadi wapinru.

‘’Heyy ,Titin, selamat ya …,’’ ucap temanku yang bernama Lidya. Dengan wajah tersenyum bangga aku menjawab, ‘’hihihii iya,  Lid. Terima kasih ya..’’

Tidak terasa telah tiga bulan aku mengikuti organisasi ini. Reguku  mengikuti lomba pramuka se-eks karesidenan Kediri. Lombanya yaa lumayan banyak. Seperti pionering, LKBB, seni tari, poster digital, dan masih banyak lagi. Tetapi karna keterbatasan mental, aku yang sering merasa capai. Aku hanya mengikuti beberapa lomba. Aku mengikuti lomba pioneering, LKBB, dan seni tari saja. Walaupun hanya beberapa lomba yang dapat aku ikuti, itu tidak membunuh semangat aku menjadi kebanggaan madrasah. Aku bersemboyan, ‘’DATANG MENJADI JUARA, BUKAN HANYA PESERTA’’.

Sekitar dua minggu aku dan teman-teman berlatih. Namun ternyata mendapat kabar yang lumayan tidak mengenakkan. Kabarnya lomba dibatalkan karena pihak madrasah tidak memberi persetujuan. Dengan rasa sedikit kecewa aku dan teman-temanku harus menerima kenyataan. Tapi tidak apa, ajang perlombaan ini tidak memutus tali semangat belajar aku dan teman-teman. ‘’Nggak apa-apa ya, Anak-anak … kalian tetap menjadi kebanggan madrasah. Tetap semangat,’’ ucap bapak pembina Pramuka dengan wajah tersenyum lebar.

Pada akhirnya setiap hari aku selalu belajar. Mengerjakan tugas dari guru. Menyibukkan diri dan mengisi waktu luang dengan hobi. Aku mengikuti olimpiade IPA di kecamatan. Alhamdulillah ternyata aku mendapat juara dua. Aku tidak menyangka kalau ini bakal terjadi. Aku juga bertemu temanku SD yang sekolah di SMP. Dia tidak mendapat juara. ‘’Kamu nyontek to?? Gak mungkin kamu mendapat juara. Kamu pasti nyontek,’’ olok temanku SD. Aku hanya diam dan tersenyum tidak menjawab atau  bahkan melawan.

Dua bulan berikutnya aku mengikuti olimpiade se kabupaten. Kembali aku mendapatkan juara dua. Aku juga bertemu dengan temanku SD yang sekolah SMP. Dia kaget kalau aku mendapatkan kejuaraan. Dia iri tetapi dia mengucapkan ucapan selamat ke aku. ‘’Selamat ya.. kamu dapat juara. Semoga sukses terus ke depannya,’’ dengan muka datar dia mengucapkan itu.

Tetapi aku tidak sombong dan tetap istiqomah belajar. Tidak hanya itu aku juga semakin berbakti kepada orang tua ku. Nyaman dengan teman-temanku dan semakin dekat dengan Allah. Guruku bangga dengan prestasi yang aku raih.

‘’Selamat ya, nak KHOTIM … akhirnya dengan olimpiade ini bisa menambah semangat kamu belajar di MTs. ini. Sekali lagi saya ucapkan selamat,!’’ ucap bu Arsun sambil duduk di sampingku.

‘’Iya, Bu terimaksih juga. Sudah memotivasi saya dan memberikan semangat yang wuoww.’’ ucap aku sambil mencium tangan bu Arsun.

Aku mendapat penghargaan dari sekolah ku. Aku bisa membuktikan ke temanku bahwa pilihan keluargaku tidak salah. Buktinya aku bisa berprestasi melebihi temanku yang sekolah di SMP.

Akhirnya teman-temanku menyadari bahwa sekolah di mana saja sama saja. Bahkan di madrasah mendapatkan ilmu tambahan, yaitu pelajaran agama yang lebih banyak. Praktik ibadah diperkuat. Sehingga para siswa langsung menerapkan budi pekerti yang baik. Semakin dekat pada Allah, semakin berbakti pada orang tua, dan semakin baik dengan sesama.

Karena di sekolah di MTs. aku semakin paham bahwa inilah jalanku menuju surga. Aku akan berbakti dan membawa kedua orang tuaku menuju surga bersama.

One Reply to “JALAN SURGAKU”

  1. Wow.karangan cerita yang bagus sangat singkat tapi pembelajarannya dapat….aku suka sama cerita ini….semangat!!! Buat karangan. Lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *