Sahabat di Madrasah

Anggis Nikmatuz Z.

Di jalanan yang sepi serta angin malam yang terus berhembus kencang. Seorang gadis mengendarai motor dengan kecepatan tinggi tanpa memperdulikan keselamatannya. Sampailah dia di tempat ramai karena deru suara bising motor, ya…dia sedang berada di arena balap liar.

“Wih dah dateng lu,“ ucap Dinda .

”Hem, mana yang mau ngajak balapan,?“ balas gadis itu .

”Noh, dia di sana dah nunggu Lo dari tadi.“ jawab Dinda.

Gadis itu mendekati garis start dengan motornya.

”Wih ada queen rancing nih,“ ucap seorang pemuda yang akan menjadi lawan gadis itu.

“Halah … banyak omong, Lu,!” ujar gadis itu.

Seorang gadis seksi datang di depan mereka dan mulai menghitung, “ Siap …!“

Raungan motor yang keras mulai terdengar.

“3, 2, 1, mulai,!“ teriak si gadis seksi.

Mereka mengendarai dengan kecepatan di atas rata-rata sampai tiba di garis finish. Akhirnya gadis cantik inilah yang memenangkan pertandingan.

Tiba-tiba terdengar suara sirine polisi dan orang-orang yang berada di arena balap mulai panik membubarkan diri. Tak terkecuali si gadis pemenang tadi. Tapi akhirnya dia kalah cepat dengan polisi yang sudah mengepung arena balap tersebut. Akhirnya gadis itu dibawa oleh polisi ke polres.

Beberapa saat kemudian datanglah seorang laki-laki dan wanita berumur 30-an. Hasna kamu tidak apa apa,? tanya wanita tadi.

Ya nama gadis itu adalah Hasna.”Iya, Mah aku baik kok,” dengan malas dia menjawab mamanya.

“Pak, dia anak saya. Ada masalah apa ya,?“ tanya laki-laki itu yang tak lain adalah papahnya Hasna .

”Anak Bapak telah melakukan pelanggaran dengan mengikuti balap liar. Dia masih di bawah umur untuk mengendarai sepeda motor,“ kata polisi. Orang tua Hasna syok mendengar hal tersebut.

“Astagfirullah,“ ucap kedua orang tua Hasna.

“Maaf, Pak … apa ini bisa diselesaikan sekarang dan anak saya bisa pulang malam ini,? “ucap papah Hasna .

“Bisa, Pak, Mari ikut saya,“ ucap polisi tersebut.

Sesampainya di rumah, “Papah akan pindahkan kamu ke madrasah yang ada di kampung eyang dan tinggal di sana,“ ucap papah Hasna dengan tegas.

“Nggak, aku nggak mau,!“ ucap Hasna dengan marah.

“Sayang, tolong ya kamu mau … Ini demi kebaikan kamu juga,“ ucap mamah Hasna sambil terisak.

Hasna yang tak tega dengan mamahnya akhirnya menyetujuinya. Hasna mungkin bisa dikatakan anak nakal dan keras kepala tetapi jika mamanya sudah seperti itu dia tak bisa berbuat apa-apa.

Hari ini, hari pertama Hasna masuk sekolah dengan pakaian sopan dan tertutup berbeda dengan biasanya dia pakai.

”Sayang sarapan dulu ya…,” ucap eyang.

“Iya, Eyang,“ jawab Hasna.

Akhirnya Hasna berangkat ke madrasah dengan sepeda karena motornya disita oleh ayahnya. Saat Hasna memasuki gerbang sekolah dia bertemu dengan salah satu murid cewek di sana.

“ Hai ,“ ucap cewek itu.

“Oh, hai …, “ jawab Hasna dengan ramah.

“Murid baru ya? Kenalin aku Lisa,“ ucap teman barunya sambil mengulurkan tangan.

“Namaku Hasna,“ menerima uluran tangan Lisa.

“Masuk bareng yuk,!“ ajak Lisa dan dijawab anggukan oleh Hasna.

Sejak saat itu Lisa menjadi teman pertama dan paling dekat dengan Hasna di madrasah .

Hari pertama Hasna di madrasah dengan tempat dan lingkungan baru. Bel berbunyi tanda mulainya pembelajaran. Pembelajaran pertama mempelajari tajwid dan hukum bacaan Al Quran.

“Susah amat sih, “ gerutu Hasna.

Lisa yang duduk di samping Hasna tanpa sengaja mendengar perkataan Hasna, “Jangan nyerah Na, semangat,!“ ucap Lisa kepada Hasna.

“Hem, gue aja ke sini karena terpaksa,“ ucap Hasna

Hasna menceritakan bahawa dia dihukum orang tuanya. Sedangkan teman-temannya menghibur dengan kata-kata yang membangun jiwanya.

“Setiap manusia pernah berbuat salah. Namun yang paling baik dari yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat. Ini kata kata di H.R Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad. Semua orang pasti pernah berbuat salah. Jadi kamu jangan kayak gitu,“ nasihat Lisa “Sekarang aku tanya sama kamu. Kamu sekarang mau berubah apa nggak ?“

Hasna meminta teman-temannya membantu dirinya berubah ke jalan yang benar. Sedangkan teman-temannya meyakinkan bahwa mereka akan belajar bersama. Saling mendukung menuju kebaikan.

Keesokan harinya Hasna sudah duduk di kelasnya membaca novel yang ia sukai sambil menunggu bel masuk berbunyi.

“Assalamualaikum pagi, Na …,“ sapa Lisa yang baru datang bersama seorang perempuan di sampingnya.

Lisa memperkenalkan temannya bernama Dinda yang kemarin izin tidak masuk. Bertambahlah teman Hasna di madrasah.

Tring… tring… tring… Bel masuk sudah berbunyi tak lama pun guru masuk ke dalam kelas diikuti dengan anak perempuan di belakangnya.

Ibu guru mengucap salam dan memperkenalkan siswa baru bernama Syifa. Syifa diminta untuk duduk di sebelah Hasna yang bangkunya masih kosong. Ibu guru melanjutkan materi fiqih kemarin hingga waktu istirahat tiba.

“Hai kenalin aku Lisa,“ ucap Lisa dengan semangat karena memiliki teman baru. Lisa adalah orang yang mudah bergaul dan dia orang yang ceria. “Hai aku Dinda,“ ucap Dinda

“Dan aku Hasna,“ ucap Hasna.

“Iya salam kenal semua,“ ucap Syifa sambil tersenyum.

Seketika keadaan menjadi hening. Semua merasa canggung satu sama lain. “Oh ya setelah ini pembelajaran mengaji Al Qur’an ya? Oh ya kalian nanti ngaji halaman berapa,?” tanya Lisa untuk memecahkan keheningan.

“Juz 11 tambahan,“ jawab Syifa.

“Tambahan,?” tanya Hasna.

“Iya, soalnya aku pas MTs. menghafal Al-Qur’an dan Alhamdulillah udah dapet 10 juz,“ jawab Syifa.

“Wih cepet juga lo, Fa ngehafalin Al Qur’annya,“ puji Hasna.

Dinda menjelaskan bahwa murid baru harus menjalani tes baca Qur’an. Meski hanya membaca Al Fatihah namun bacaannya harus bener-bener bagus. Yang belum bagus nanti akan diajari ngaji sama Bu nyai (sebutan pengajar Al Qur’an di madrasah). Dinda menceritakan pengalamnnya bahwa sebulan dia baru bisa membaca Al Fatihah dengan benar

“Lis gimana nih kalau Dinda aja satu bulanan. Gue berapa,? “ ujar Hasna dengan tak percaya diri.

“Tenang aja nanti dibantu ustadzah juga kok,“ balas Lisa menenangkan Hasna.

Keesokan harinya Tring… Tring… Bel bunyi tanda waktunya masuk. Waktunya pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam ya. Guru masuk dan mengucap salam yang langsung dibalas salam juga oleh para murid.

Pembelajaran tentang perjuangan dakwah nabi dan para sahabat selesai dilanjut istirahat. “Hebat banget ya perjuangan Rasul Saw sama para sahabat. Kenapa ya Rasul sabar banget ya digituin? Kalo aku udah aku hajar tu orang. Coba bayangin deh dihina, dilempari kotoran, batu juga,“ ucap Hasna kagum.

“Itulah dahsyatnya perjuangan dakwah Islam,” ucap Lisa sambil tersenyum.

“Jadi pengen punya pasangan yang sifatnya sama kayak Rasulullah saw,“ ucap Dinda berharap.

Semua mengaminkan, saling tersenyum sambil berangkat sholat dhuha di masjid. Hasna meminta kawan-kawannya untuk mengajari tata cara sholat dhuha hingga selesai.

Mereka memanfaatkan waktu saat hendak pulang di parkiran untuk ngobrol kembali.

“Em.. kalian mau nggak pergi ke acara pengajian di madrasah nanti sore,?” ajak Lisa.

Semuanya menjawab mau tapi Syifa hanya diam.

“Fa … hei kok diem,?“ tanya Lisa sambil menepuk pundak syifa.

“Hah … ya,?” jawab Syifa sambil menatap mereka.

“Tunggu, maaf mata kamu juling,?“ tanya Hasna.

Syifa hanya menunduk. “Fa, kenapa kamu nunduk, kamu malu,?“ tanya Dinda. Mendengar ucapan Dinda, Syifa tak dapat berkata apa-apa.

“Fa, kenapa kamu harus malu? banyak kok orang di luar sana yang sama kayak kamu,“ ucap Lisa.

“Iya Fa, kamu nggak perlu malu. Setiap manusia punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kamu mempunyai kelebihan cepat dalam menghafal Al Qur’an. Itu kelebihan kamu,“ ucap Dinda menenangkan Syifa.

Setelah mendengar ucapan teman-temannya Syifa menjadi tenang dan tersenyum, “Makasih ya kalian udah mau jadi temen aku.“

Mereka menyatukan tangan mereka di tengah dan bersorak, “Kita adalah sahabat selamanya!” lalu mereka tertawa bersama.

Rupanya teriakan mereka didengar oleh pak Satpam. Dan pak Satpam minta agar mereka segera pulang karena hari semakin sore.

“Iya ini mau pulang. Ya udah, Pak … Assalamualaikum,“ salam mereka sambil berjalan pulang. Pak Satpam menjawab dengan geleng-geleng kepala.

Dua minggu kemudian ada pengumuman melaui pengeras suara, “Anak-anak kelas 10 dan 11 diharap untuk berkumpul di aula sekarang. Terimakasih” Mereka bersama ke aula hingga acara selesai. Namun mereka menggerutu karena pak guru menyampaikan pengumuman lama sekali.  Saat kembali ke kelas Syifa ingin ke toilet dulu dan tidak ingin merepotkan teman-temannya untuk mengantar.

“Ya udah balik aja ke kelas. Gerah di sini,“ keluh Hasna.

Mereka bergandengan seperti Teletubbies menuju kelas. Banyak yang melihat tingkah mereka tapi mereka tampak acuh dan tetap berjalan santai. Sementara Syifa keluar dari kamar mandi dan bruk…., “Ma .. maaf, Kak … saya nggak sengaja,“ ucap Syifa dengan terbata bata. Dia menabrak seorang laki-laki “Hem,“ laki-laki itu langsung berjalan menjauh tanpa berkata apapun lagi.

“Ganteng. Astagfirullah,“ ucap Syifa dalam hatinya. Lalu ia langsung berlari menuju kelasnya.

“Assalamualaikum, Anak-anak jangan lupa kalian tentukan apa yang akan kalian ikuti di kegiatan ekstrakurikuler. Seperti apa yang diumumkan tadi di aula. Dan satu hal lagi kelas ekstrakurikuler ini diisi bukan hanya dari sekolah kita saja karena ini campuran. Paham semua? Ini nanti diisi datanya dan nanti langsung diserahkan ke saya di kantor. Wassalamu’alaikum …,“ ucap guru tersebut.

“Waalaikumsalam …,” balas para murid dan guru pun keluar.

“Kalian ikut ekstrakurikuler apa,?” tanya Lisa.

“Aku mungkin Tahfiz,“ jawab Syifa.

“Aku pencak silat sih,” jawab Hasna.

“Aku kelas jahit sama desain aja deh. Kalo kamus apa, Lis,?“ balas Dinda

“Mungkin rebbana,” jawab Lisa.

“Ya udah, Na … yuk gaes duluan ya assalamualaikum,“ ucap Dinda sambil menarik tangan Hasna.

“Lah! Oi… assalamualaikum,“ ucap Hasna yang sudah ditarik Dinda

”Ya udah, Fa … kita juga bareng yuk,!“ ajak Lisa

“Ayok,“ balas Syifa.

“Mau kayak mereka,?” ujar Lisa sambil menahan tawa.

“Nggak deh nanti kalo kita kayak gitu jadi aneh,“ ujar Syifa. Mereka pun tertawa. Membayangkan jika dunia terbalik terjadi pada mereka sepertinya akan menyeramkan

Di kelas ekskul Syifa, “Oh ya, Fa … tolong ambilkan buku saya di kantor guru ya,!” pinta guru kepada Syifa.

“Iya, Bu,” jawab Syifa. Dia keluar mengambil buku. Ia melewati kelas latihan Hasna. Ia berhenti sebentar melihat apa yang Hasna lakukan. Tiba-tiba seorang laki-laki datang. “Cepet ganti baju, Lo … udah telat 10 menit,!” perintah laki-laki itu dengan tegas.

“Astagfirullah, maaf, Kak aku bukan ekskul ini,“ Syifa masih kaget karena tiba-tiba dia muncul di belakangnya tanpa suara. “Oh,” cowok itu langsung pergi.

“Aneh, masak jalan nggak ada suaranya. Siapa tu cowok,?” ucap pelan Syifa. “Dia Fahri si raja pencak silat dan juga pelatih di ekskul ini,“ ucap gadis yang ada di sampingnya entah dari mana dia.

”Oh ya kamu bilang tadi bukan ekskul ini tapi kok kamu ada di sini,?” tanya gadis itu.

“Maaf, Kak tadi cuma lewat trus penasaran hehehe,“ ucap Syifa malu karena ketahuan. ”Mm.. ya udah aku duluan ya … Assalamualaikum,” gadis itu berjalan menjauh. “Aaalaikumsalam,” jawab Syifa. Dia segera berlari menuju kelasnya menemui gurunya yang sudah menunggu buku yang ia bawa.

Keesokan harinya Syifa datang lebih dulu dari yang lain. Ia duduk di bangkunya dan memejamkan matanya mengingat materi ekstrakurikuler. Namun tiba-tiba dia teringat cowok yang pernah ia temui dua kali itu. Peristiwa itu membuatnya jatuh hati. Saat perlahan ia membuka matanya “Aaaaaaaaaaaa,” teriak ketiga sahabat nya itu. “Aaaaa,!” Syifa ikut berteriak kaget mendengar teriakan mereka.

Syifa pura-pura ngambek namun kembali tersenyum ketika teman-temannya menjelaskan bahwa Syifa seperti memikirkan sesuatu.  Mereka terus menggoda Syifa karena saat istirahat pun Syifa tak mau diajak ke kantin.

Ternyata Syifa memberanikan diri menemui Fahri, “ Assalamualaikum, Kak … a … aku bo boleh duduk di sini,?“ tanya Syifa gugup. “Waalaikumsalam, terserah,” balas Fahri dengan cuek. “Kak ada yang mau aku omongin ke Kakak,” ucap Syifa dengan gemetar. “Apa,?” jawab Fahri.

“I .. itu aku suka sama kakak,“ ucap Syifa.

Setelah mendengar ucapan Syifa, Fahri menutup bukunya dan menoleh ke Syifa. Ia memalingkan pandangannya ke depan, “Gue paling nggak suka lihat cewek caper.  Percuma Lo ngomong kayak gitu. Banyak cewek di luar sana sama kayak Lo sekarang. Jujur, gue benci sama cewek kayak gitu. Apalagi Lo jul…” ucap Fahri.

“Juling,!” sahut Syifa lalu berdiri dari tempat duduknya “ Karena aku juling, jelek, kampungan, itu alasannya? Padahal sebelumnya aku kagum sama Kakak ya… Aku kira Kakak cowok baik-baik ternyata kakak sama aja kayak cowok lain.  Dan ya itu semua memang salah ku. Aku yang bodoh udah berpikiran kayak gitu.“ ucap Syifa menahan tangisnya.

“Mending Lo ngejauh dari gue. Itu adalah hal terbaik,” ucap Fahri berdiri dan pergi menjauh.

Syifa sudah tak tahan menahan tangisannya dan berlari ke toilet. Ia membersihkan wajahnya dan menenangkan dirinya. Ia kembali ke kelas, “Ya Allah ampunilah hamba.“

“Assalamualaikum,” ucap Syifa

“Waalaikumsalam” jawab teman-temannya yang heran dengan kondisi mata Syifa yang merah. Syifa pun menjelaskan kalau matanya kena debu dan meyakinklan bahwa ia tidak ada masalah apa-apa.

Setahun berlalu. Terjadi perubahan pada Hasna. Cara bicara, cara dia mengontrol emosi, dan menjaga lisannya. Ibadahnya mulai membaik. Dari tata cara hingga bacaan shalat, bacaan Qur’an nya.  Bahkan dia sekarang juga semakin mahir dalam pencak silat

Lisa sekarang menjadi orang yang lebih bijaksana. Dia tahu bagaimana mengetahui kapan waktunya ia berbicara dan kapan untuk berhenti. Dia adalah orang yang paling dewasa di antara yang lain.

Dinda gadis yang pecicilan ceria. Cara mendesain jahitan bisa dibilang mulai berkembang. Dia sudah bisa membuat desain bajunya sendiri.

Syifa menambah hafalannya dan perlahan-lahan bisa melupakan masalah masa lalunya yang pahit. Dihina oleh orang yang disukai pasti menyakitkan. Tapi ia berhasil melupakan dengan menyibukkan diri untuk meningkatkan ibadahnya.

“Nggak kerasa ya kita udah satu tahun aja di sini,“ kata Syifa

“Iya” jawab Hasna

Rencana demi rencana setelah lulus mereka perbincangkan bersama.

“Aku mungkin balik ke Jakarta, pulang sama papa mamah. Kuliah di sana,“  jawab Hasna.

“Jangan lupa kita pernah buat kenangan di sini. Di tempat kita mendekatkan diri sama Allah dan tempat dipertemukannya kita semua,“ ucap Lisa. Pokoknya tahun ini hanya boleh ada kebahagiaan nggak boleh ada sedih-sedih nya lagi,“ ucap Lisa.

Pembelajaran Al Qur’an, bacaan-bacaan shalat, hadits-hadits, pembelajaran kehidupan menurut Islam yang benar, adab, bagaimana menjaga diri, hati dan lisan dengan baik. Mereka saling menjaga, mengingatkan jika ada yang melakukan kesalahan.

Memang benar keluarga, lingkungan, pendidikan, yang kita dapat sangat mempengaruhi bagaimana kita ke depannya. Dan tak lupa juga seorang teman juga salah satu peran penting juga dalam berhijrah.

Seperti hadits ini “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang Sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya ataupun minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaian hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak “ (H.R Bukhari no 2101 dari Abu Masa).

Pendidikan di madrasah memang juga salah satu peran penting dalam kehidupan. “Siapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka dia berjuang fisabilillah hingga dia kembali“. Hasna mulai Istiqomah untuk hijrah dengan baik niat karena Allah SWT. Hasna mulai mengubah kebiasaan-kebiasaan yang selama ini salah dan meninggalkan apa yang selama ini dilarang dalam Islam.   Bahkan Hasna sekarang sangat suka membaca Al Qur’an. Bahkan Hasna memulai hafalan Al Qur’an yang dibantu oleh Lisa, Dinda, dan juga Syifa.

Hasna juga berprestasi dalam nilai akademik. Mereka berempat juga sering juara kelas. Bahkan mereka juga sering memenangkan perlombaan yang diadakan madrasah maupun luar madrasah .

Orangtua mereka bahagia dan bangga. Hal ini menunjukkan Hasna menjadi diri yang lebih baik setelah sekolah di madrasah. Karena lingkungan di sekitarnya yang baik juga. Hasna mulai Istiqomah dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT dan melaksanakan kewajibannya sebagai muslimah.

Waktu berlalu dengan cepat. Akhirnya Hasna, Lisa, Dinda, dan Syifa lulus dari madrasah dengan nilai yang baik. Orang tua Hasna datang untuk menjemput Hasna setelah sekian lama berpisah. Mungkin untuk orang tua berpisah dengan anaknya untuk waktu yang lama adalah hal yang sangat berat. Namun itu untuk kebaikan Hasna itu sendiri .

Hasna sadar bahwa apa yang pernah ia lakukan dulu salah. Hasna semakin paham akan tugasnya menjadi anak harus berbakti, menghormati, dan mematuhi orang tua. Sebagai muslimah yang baik, Istiqomah dalam menjalankan ibadah, dan meningkatkan ibadah.

Ia menyadari bahwa pendidikan, lingkungan, teman, dan niat di hati sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Dan dia juga sadar bahwa madrasah salah satu sarana menuju surga kelak yang akan membawanya bersama orang tua dan keluarganya .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *