GURU BERGURU MENUJU MASYARAKAT 5.0

Era masyarakat 5.0

Dunia pendidikan tengah berada di posisi yang tertantang. Betapa tidak, revolusi industri membawa berita tentang society 5.0. Hal ini  menjadi pecut masyarakat untuk berpikir lebih jauh demi menggapai hal tersebut. Dunia industri bukan hanya milik pengusaha atau konglomerat. Bisa dikatakan dunia pendidikan adalah ujung tombak pelaku industri untuk bisa bermain di dalamnya.

Jika ditelusuri tentang revolusi industri, angkatan pertama adalah digunakannya mesin uap untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan. Mesin ini ditemukan oleh Hero dari Alexandria. Dikembangkan oleh Thomas Savery yang seorang Inggris dan dikembangkan lagi oleh para penemu berikutnya. Tentu saja mesin uap bermanfaat untuk dunia industri. Namun siapa yang menegakkan dunia industri tersebut? Tidak lain peran para ilmuwan. Mereka adalah guru-guru profesional. Guru-guru tersebut tidak berhenti untuk belajar dan berinovasi. Hingga temuannya menjadi makin sempurna.

Angkatan ke dua, digunakannya tenaga listrik untuk membantu produksi. Dilanjut angkatan ke tiga dengan penggunaan teknologi otomasi. Angkatan ke empat atau revolusi industri 4.0., berupa penyempurnaan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Maka angkatan ke lima atau revolusi 5.0, merupakan tantangan besar untuk masyarakat. Dalam era ini aplikasi digital pada kehidupan manusia diwujudkan. Sehingga masyarakat yang bekemajuan dapat menjawab tantangan pada revolusi industri 4.0. Dengan harapan masyarakat dapat menyelesaikan masalah-masalah kehidupannya dengan kecerdasan tinggi. Yaitu pemanfaatan internet dan kecerdasan otak.

Guru sebagai Subjek Perubahan Zaman

Demi mencapai revolusi industri 5.0, diperlukan sumber daya manusia yang mumpuni. Maka gurulah sebagai sasaran utamanya. Guru sebagai subjek dan siswa sebagai objek. Karena gurulah yang secara langsung berhadapan dengan siswa. Ada harapan untuk menjadikan siswa sebagai sumber daya manusia yang super power. Sehingga bisa mengaplikasikan ilmunya untuk mengatasi permasalahan sosial yang sedang berkembang.

Guru sebagai tumpuan perubahan zaman. Karena itu perlu adanya transfer ilmu. Guru memberikan garis-garis pokok pengetahuan. Dengan harapan siswa bisa mengembangkan ilmu-ilmu yang didapat.

Untuk itu sebelum terjun menjadi seorang guru, calon guru harus membekali diri dengan pengetahuan sesuai bidangnya. Bahkan tidak berhenti pada spesifikasi kelimuannya. Tuntutan zaman mengharuskan guru untuk mengikuti pekembangan pengetahuan yang ada. Bisa politik, ekonomi, sosial, budaya, dan agama sebagai penguat ilmu spesifikasinya.

Kendala Guru Senior

Sayang sekali, tidak semua guru bisa menyandang predikat mumpuni.  Bukan berarti guru bodoh namun masih mempertahankan keklasikan. Enggan mengupdate pengetahuan yang semakin berkembang. Hingga apapun alasannya, banyak yang belum mampu mengejar ketertinggalannya terhadap teknologi pembelajaran.

Tuntutan kepada guru senior dirasa berat. Tertatih-tatih harus meninggalkan metode pembelajaran konvensional. Di antaranya metode yang hanya berceramah di hadapan siswa. Bisa dilihat, tidak semua guru senior mampu mengajar dengan baik. Bahkan tidak sedikit guru menyerah. Setiap ada tugas yang berhubungan dengan pembelajaran online, sang guru senior membawa asisten. Meskipun hal tersebut merupakan solusi namun pada akhirnya guru senior tetap akan tertinggal. Ini menjadikan guru senior tidak nyaman berada di sekolah. Karena akan minder dengan guru-guru yang lebih inovatif.

Sedangkan zaman berkehendak lain. Kemajuan zaman menuntut metode pembelajaran yang lebih realistis. Bisa mengatasi problematika hidup. Untuk itu guru senior dipaksa bisa mengikuti guru-guru yunior yang masih hangat bergelut dengan dunia komputer dan internet.

Dampak Corona memaksa guru kembali berguru

Tidak ada yang menduga dengan sebuah wabah. Yaitu pandemi corona yang mendunia. Sangat merugikan dalam bidang apapun. Juga tak lepas dari dunia pendidikan. Di antaranya adalah hilangnya kesempatan tatap muka antara guru dan peserta didik. Sontak dunia pendidikan jadi heboh karena beberapa bulan siswa tidak boleh masuk sekolah. Takut terjadi penularan yang beralasan.

Namun sebuah hikmah pun didapat. Dampak positif dari pandemi tersebut adalah mengharuskan semua guru belajar kembali. Bagaimana bisa menyampaikan ilmunya kepada para siswa. Guru harus berpikir keras. Dengan bertatap muka, ada kalanya siswa mengeluh karena kurang jelas dengan penjelasan guru. Apalagi tanpa tatap muka. Guru harus memikirkan bagaimana ilmu yang menjadi hak siswa tersampaikan.

Maka fasilitas untuk guru perlu dipersiapkan. Berupa kesempatan belajar mempercanggih diri. Dengan mengikuti peningkatan kompetensi, pembelajaran e learning, pembelajaran daring, hingga pada metode-metode pembelajaran yang inovatif.

Metode pembelajaran

Untuk bisa menjadikan siswa sebagai ladang kemajuan zaman, diharapkan guru bisa memberikan pembelajaran dengan berbagai metode, yaitu:

  1. Inovatif dan Kreatif

Pembelajaran yang diperlukan oleh anak bangsa adalah yang bersifat memperbarui. Berinovasi terhadap hal yang sudah ada. Menjadikan sesuatu yang tidak bermanfaat menjadi terangkat kembali. Meskipun dengan fungsi yang berbeda.

Tentu ini memerlukan kreativitas. Guru belajar memutar otak terus dengan melakukan berbagai eksperimen. Hasilnya akan disampaikan kepada siswa. Dengan eksperimen tersebut, secara tidak langsung guru telah mengajak siswa untuk memikirkan inovasi yang lain.

  1. Realistis

Pola berpikir dalam penyampaian materi bersifat real, tidak hanya teoretis. Siswa dihadapkan pada problematika yang nyata. Belajar menyampaikan sikap dan pendapat terhadap masalah yang terjadi. Misalnya kejadian yang sedang tren di masanya. Bisa berupa fenomena alam, politik, hingga agama. Guru menggali pendapat para siswa. Mencari sebuah solusi. Tentu dengan arahan guru yang bersifat netral dan tidak profokator.

  1. Mencari solusi atas ketersediaan sarana dan prasarana.

Untuk menunjang pembelajaran yang maksimal diperlukan sarana dan prasarana terbaik. Dijalankan oleh para profesional. Sehingga siswa akan lebih mudah untuk menerapkan teori pada objeknya.

Guru di sekolah yang minim fasilitas dituntut untuk menemukan solusi. Bersama dengan siswa memikirkan bagaimana bisa melaksanakan program pembelajaran. Anggap saja di tempat terpelosok. Guru berinovasi dan bergotong-royong dengan warga untuk internetisasi. Sehingga contoh-contoh permasalahan yang mengglobal akan bisa dijangkau oleh masyarakat tersebut.

  1. Membentuk Moral

Tidak kalah pentingnya pembekalan moral pada siswa. Dengan bekal agama yang kuat, siswa akan merasa bersama tuhannya. Sehingga kejujuran akan dijunjung tinggi. Pun etika terbaik perlu pembiasaan. Apapun profesi siswa kelak tetap dilakukan dengan penuh tanggung jawab, moral yang baik, dan taat kepada tuhannya.

 

Belajar memang tidak mengenal usia. Guru perlu mempertahankan profesi mulia dengan terus mengasah kemampuannya. Tidak patah semangat dalam berusaha. Karena guru pun perlu berguru. Tidak perlu malu berguru kepada yang lebih muda. Bahkan kepada anak sekalipun. Sehingga guru ideal siap merubah bahkan mencetak siswa menjadi pelaku-pelaku profesional dan berkarakter. Hingga masyarakat siap menyongsong era 5.0.

Oleh: Dra. Luluk Nur Rahmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *