JACK

Brum… brum … suara knalpot moge menggetarkan jantung yang kurang sehat. Tentu saja mengejutkan karena Jack baru saja pulang sekolah dan belum sempat ganti baju. Rio nyelonong dari samping rumah dan berteriak.

“Bro, temeni aku yuk,!” ajak Rio.

“Aku kan belum makan,” jawab Jack.

“Ala… gampang … nanti pasti ku traktir,” Rio merayu Jack.

“Iya sih, tapi aku kan masih cape,” Jack beralasan.

“Idiiih kamu manja amat sih …,” Rio mengolok.

“Memangnya kemana kamu tadi? tak tampak batang hidungmu. Guru-guru nyari kamu tuh,” Jack menanyakan alasan kealpaan Rio ke sekolah.

“Kamu itu, mau tahu … saja. Biasalah, begitu papaku berangkat kerja aku balik menyelinap kamar. Kembali tidur, Bro …,” jawab Rio sambil tertawa ngakak.

“Halah … kamu ini tidak niat sekolah,” ganti Jack mengolok Rio.

Sambil ganti baju, Jack berteriak pada bibi, “Bi, aku pergi ya..”

“Loh, gimana to ini? Mas Jack kan belum makan …,” kata bibi khawatir.

“Nggak apa-apa, Bi … nanti saja,” Jack berusaha menenangkan bibi.

Sejak kecil kepengasuhan Jack dipercayakan pada bibi. Papanya malang-melintang dalam bisnisnya. Antara Kediri dan Kalimantan untuk urusan perkayuan. Sedangkan mamanya juga sibuk dengan urusan sosialnya. Karena itu belum tentu sebulan sekali Jack bisa berbincang dekat dengan papa mamanya. Kalaupun bertemu hanya sebatas formalitas untuk saling sapa. Tidak lain karena diburu waktu untuk mengejar materi. Untuk itu Bos Anton meminta bibi tinggal di rumahnya bersama puteranya yang bernama Ahmad. Suami bibi meninggal sejak Ahmad berusia dua tahun karena sakit.

Bibi tinggal di rumah belakang bersama Ahmad yang sekarang kelas 12. Bibi memang baik. Jika Bos Anton dan isterinya keluar kota, tidak jarang Jack lebih nyaman tidur bersama bibi dan Ahmad. Mereka saling menyayangi bagaikan keluarga sendiri.

Jack dan Ahmad berbeda komunitas. Jack sekolah di SMP favorit yang terkenal mahal. Teman-temannya dari kalangan orang berduit. Mayoritas antar-jemput mobil saat ke sekolah. Ada pula yang membawa motor mahal meskipun sebenarnya usia mereka belum cukup untuk bisa  berkendara sendiri. Demikian juga Jack, jika bosan diantar sopir maka dia membawa motor gedenya ke sekolah. Sedang Ahmad sekolah di madrasah aliyah negeri. Komunitasnya pun menyesuaikan lingkungan warga madrasah. Bersyukur Bos Anton menyediakan fasilitas motor lama yang tidak terpakai.

Jelang maghrib Jack belum juga pulang. Bibi khawatir dan meminta Ahmad untuk menelepon Jack. Namun berkali-kali ditelepon tidak ada jawaban. Bibi dan Ahmad sangat khawatir. Takut kejadian yang lalu terulang kembali. Jack pernah tersangkut masalah balap liar. Sehingga papanya harus memenuhi panggilan kepolisian. Bibi takut dimarahi Bos Anton dan nyonya. Dianggap tidak bertanggung jawab lagi. Membiarkan Jack bermain sesuka hati.

Ahmad berinisiatif mencari ke rumah teman-teman dekat Jack. Hasilnya nihil. Ahmad berusaha menenangkan ibunya yang sedang menangis. Padahal sebentar lagi Nyonya Anton datang dari luar kota.

Tetiba bibi melihat suatu onggokan di sofa ruang tamu yang lampunya redup. Bibi dan Ahmad segera menyalakan lampu ruang tamu dan menghampiri onggokan tersebut. Dan … ”Ba!”, suara dari onggokan sarung mengejutkan.

“Ha .. ha.. ha ..,” Jack tertawa.

“Astaghfirullah …,” bibi mengucap dengan gemetar.

“Ma syaa Allah …. kamu ini membuat orang panik saja, Dik..!! Hadeehh,” ucap Ahmad sambil geleng-geleng kepala.

“Asik … asik … Kena semua deh! ha .. ha .. ha ..,” Jack merasa senang bisa mengerjai bibi dan Ahmad.

Bibi dan Ahmad menyimak penjelasan Jack bahwa dia terpaksa naik angkot untuk melarikan diri dari teman-temannya. Setelah Jack ditraktir makan, Rio memanggil teman-temannya untuk bergabung. Di situlah awal kejadian yang mencurigakan. Rio menelan obat pusing katanya. Namun masih ada persediaan obat dalam sakunya. Setengah memaksa Rio menawarkan kepada Jack. Tentu saja Jack menolak karena tidak merasa sakit apa-apa. Rio meyakinkan bahwa teman-temannya pernah memakai dan merasa nyaman saja. Alasan ini diiyakan oleh teman-temannya.

Karena merasa terdesak Jack mencari alasan untuk menghindar. Jack pamit ke kamar kecil. Mengendap-endap menuju samping warung dan ke gang-gang kecil. Jack lari menuju jalan raya dan memanggil gojek. Di perjalanan ponsel Jack berdering terus. Rupanya Rio mencari-cari Jack.

Jack sampai rumah ketika bibi dan Ahmad sedang sholat. Jack mandi dan menunaikan sholat maghrib kemudian. Saat tahu bibi dan Ahmad panik mencari Jack, keisengannya muncul. Dia meringkuk di shofa dengan mengarungkan sarung ke tubuhnya.

Mereka tertawa terpingkal-pingkal. Bibi dan Ahmad yang semula sedih  seakan lupa akan kekhawatiran tadi. Sampai tak terasa waktu hampir pukul sembilan malam. Nyonya Anton tiba, Ahmad membukakan pintu sambil masih tertawa cekikikan.

“Wah asik sekali. Ada apa nih,?” Nyonya Anton penasaran.

“Nahhh mama kepo kan,?” Jack ngeledek mamanya. “Sini, Ma … aku mau cerita,“ lanjutnya.

“Iya … mama mau mandi dulu. Tapi mama cape dan ngantuk,” kata Nyonya Anton langsung masuk kamar.

Mereka bertiga melanjutkan ngobrol sambil makan. Meski di dalam rumah sudah tersaji menu makan keluarga. Jack memilih makan di belakang. Sambil menunggu mamanya selesai bebersih diri.

Berkali-kali Jack menengok dalam rumah, mamanya belum juga tampak. Jack ingin segera menyampaikan kejadian siang sampai malam ini. Pikir Jack mamanya akan senang dengan keberaniannya menolak ajakan teman-temannya tadi. Kembali Jack mengetuk pintu kamar mamanya namun hanya ada sahutan dari dalam kamar bahwa mamanya lelah. Jack kecewa dan kembali ke kamar. Dentang jam dinding berbunyi sebelas kali, Jack belum bisa memejamkan mata.

“Tok …tok … tok.. Mas.. Bi …,” Jack berharap ada yang membukakan pintu.

Beberapa saat pintu baru terbuka. “Kok belum tidur, Dik?” Ahmad heran dan menyilakan Jack masuk.

“Aku tidur sini saja, Mas,” Jack memohon.

“Loh, bukannya ada mama, nanti kalau dimarahi bagaimana?” Ahmad khawatir.

“Sudahlah, Mas … biarkan aku di sini. Mama sudah tidur. Sedang mataku nggak bisa dipejamkan,” jawab Jack.

“Okelah, yuk segera tidur ya … biar nanti bisa bangun malam,” ajak Ahmad.

“Ngapain bangun malam,?” sambil menaikkan selimut Jack mencari tahu.

“Ya sholat lah … bila kita masih sehat dan sempat kita usahakan memperbanyak ibadah kepada Allah,” Ahmad menjelaskan.

Sedikit demi sedikit Ahmad menyampaikan ilmu yang didapat kepada Jack yang dianggap sebagai adiknya. Baik ilmu agama maupun pengetahuan umum yang dia bisa. Ahmad memahami bahwa Bos Anton dan isterinya kekurangan waktu untuk bisa mendidik puteranya sendiri.

Sebagaimana biasa, bila ada mamanya di rumah, Jack selalu bersama sopir. Mamanya berharap agar Jack tidak capai dalam perjalanan. Jelang pulang sekolah sopir sudah ada di depan sekolah. Menunggu hingga pukul dua siang. Jack belum tampak sedang teman-temannya sudah habis. Pintu gerbang hendak ditutup oleh satpam. Sopir segera menanyakan keberadaan Jack namun satpam menjawab bahwa di dalam sudah tidak ada orang.

Sopir menelepon Nyonya Anton tapi malah kena marah. Sopir bingung mencari di sepanjang jalan menuju rumah. Belum menemukan juga. Nyonya Anton memaki-maki sopir. Menganggap sopirnya bodoh tidak bisa dipercaya untuk mengawasi anak.

Tiba-tiba ponsel Nyonya Anton berdering. Dari seberang terdengar suara Ahmad. Ahmad menjelaskan bahwa dia ada di rumah sakit bersama Jack. Nyonya Anton panik langsung minta sopir untuk mengantar ke rumah sakit. Dalam perjalanan Nyonya Anton tidak berhenti memarahi sopir.

Nyonya Anton langsung menuju IGD RSUD. Menghambur pada Jack yang tergeletak bersimbah darah tidak berdaya. Nyonya Anton meminta Ahmad mengurusi administrasi dengan kamar vip sebagai tempat rawat inap. Sementara Jack belum bisa diajak bicara karena luka memar di kepala membuatnya pening.

Di kamar rawat inap, Ahmad menceritakan kejadian siang itu. Saat melewati persawahan Ahmad berhenti melihat kerumunan. Ahmad terkejut ternyata kerumunan orang tersebut sedang menolong Jack yang terluka parah. Menurut saksi mata, Jack dilempar dari sebuah mobil mewah berwarna merah. Jack muntah-muntah hingga tidak sadarkan diri. Ahmad minta tolong warga mengantar ke rumah sakit.

Ahmad baru ingat kejadian kemarin bahwa Jack melarikan diri dari ajakan teman-teman gengnya. Kemungkinan teman-temannya marah pada Jack. Jack mengiyakan penjelasan Ahmad. Nyonya Anton menangis dan bersiap melapor polisi. Namun Jack mencegah. Jack takut akan pembalasan yang lebih parah. Jack diancam oleh komplotan teman-temannya yang tidak baik. Nyonya Anton menelepon suaminya yang masih ada di Kalimatan. Dari sana Bos Anton menghubungi polisi. Menyerahkan urusan Jack ke kepolisian. Sedangkan Nyonya Anton membatalkan jadwal kegiatan bersama teman-temannya karena ingin menunggui anaknya di rumah sakit.

Berangsur Jack sembuh hingga bisa mengikuti ujian demi ujian di sekolahnya. Demikian juga ujian nasional dilalui dengan lancar. Sedang teman-teman yang mencederainya mengerjakan ujian nasional di ruang tahanan.

Saat Bos Anton di rumah dan bersantai dengan mamanya, Jack mengungkapkan keinginannya.

“Papa, aku ingin sekolah di madrasah aliyah,” kata Jack.

“Hai! Mimpi apa kau, Nak,?” Bos Anton bertanya heran.

Tidak kalah sewot, mamanya juga nyeletuk, “Mau jadi apa kamu nanti, apa mau jadi ustad? Sekolah favorit banyak. Biaya mahal tidak masalah. Kamu harus meneruskan bisnis papamu nanti. Setelah SMA kamu harus kuliah di perguruan tinggi terbaik. Kalau perlu ke luar negeri. Papamu tuh cari uang buat kamu, tahu,!” Nyonya Anton emosi.

“Mama yang sabar dong .. jangan marah-marah kayak gitu ..,” Bos Anton meminta.

Jangankan diam dan bersabar, isterinya justru berteriak memanggil bibi dan Ahmad dari pintu samping.

Bibi dan Ahmad ketakutan karena sudah hapal dengan nada suara tinggi nyonyanya. Mereka saling bertanya tentang kemarahan apa yang akan dilontarkan. Begitu bibi dan Ahmad duduk agak menjauh dari tuan mereka, Nyonya Anton langsung mendamprat mereka.

“Ini pasti ulah kalian ya! Membujuk Jack untuk bersekolah di madrasah. Nggak level tahu! Kalau Ahmad sekolah di MAN tidak masalah karena memang lingkungan kalian demikian. Sedangkan Jack? Mana mungkin dia sekolah madrasah. Di mana ku taruh mukaku? Apa tanggapan teman-teman mama nanti? Heh! Ayo jawab!,” ungkapan marah sang nyonya.

Sebelum bibi dan Ahmad menjelaskan, Jack mendahului berbicara, “Tidak, Ma! Tidak ada yang memengaruhiku. Bibi dan mas Ahmad tidak tahu apa-apa, Ma … Ini kehendakku sendiri”

“Halah, tidak mungkin! Keseharianmu banyak bersama mereka. Kau jadi anak ndeso. Jangan membuat malu mama dan papa dong, Jack. Jangan kau bela mereka!” Nyonya Anton emosi.

“Tidak, Ma … Sungguh! Sudahlah biarkan bibi dan mas Ahmad kembali ke belakang. Ini tidak menyangkut mereka,” kembali Jack menyanggah mamanya.

Bos Anton menengahi suasana yang memanas antara Jack dan mamanya.

“Sabar, semuanya bisa didiskusikan dengan baik. Kita bicarakan satu per satu. Jangan asal bicara, semua ada sebab dan musababnya,” kata Bos Anton bijak.

“Bagaimana, Bi? Benarkah kalian memengaruhi Jack untuk sekolah di MAN,” tanya Bos Anton.

“Kami tidak tahu apa-apa, Tuan. Tentu kami tidak berani memberikan saran tentang sekolahnya Mas Jack,” jawab bibi sambil menoleh pada Ahmad.

Ahmad mengangguk-angguk menyetujui jawaban ibunya. Sang nyonya tidak percaya begitu saja. Hendak menyanggah jawaban bibi. Namun Bos Anton melarangnya dan mempersilakan bibi dan Ahmad untuk kembali ke belakang.

Berlanjut menanyakan penyebab Jack ingin melanjutkan sekolah di madrasah aliyah. Jack pun menjelaskan bahwa dia bosan di sekolah umum. Tidak sedikit temannya yang ugal-ugalan. Bahkan dampaknya sempat menyeret Jack ke rumah sakit. Jack trauma dengan teman-temannya. Dia merasa salah bergaul.

Jack ingin memperbaiki diri sebelum terlambat. Dia ingin memperdalam  agamanya di madrasah aliyah. Jack merasa kurang beragama. Dia merasa tenteram saat melihat bibi dan Ahmad berjamaah di kamar mereka. Hal tersebut tidak pernah Jack dapatkan. Jack menangis karena jarang bisa ngobrol dengan papa dan mamanya.

Bos Anton terharu sementara sang nyonya terpaku di kursinya. Nyonya Anton diam seribu bahasa. Bos Anton segera menghampiri Jack dan memeluknya.

“Anakku, benarkah demikian? Maafkan papa, Nak … papa terlalu sibuk mencari uang. Pikir papa, papa mengorbankan waktu demi kebahagiaan keluarga. Yaitu dengan mencari uang sebanyak-banyaknya,” ucap Bos Anton dengan menitikkan air mata.

Sambil terisak, Jack berkata, “Maafkan aku, Papa … Mama … Jika keinginanku ini membuat malu mama dan papa. Tapi kenapa harus malu? Papa dan mama tidak sempat mengajari aku tentang agama. Karena itu aku akan belajar di madrasah”

Nyonya Anton hanya diam, tidak menjawab sepata kata pun. Karena dalam hatinya masih bergejolak. Tetap menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan di sekolah favorit. Nyonya Anton telanjur berteman dengan isteri-isteri pengusaha. Yang nota bene kalangan orang berduit. Dengan keglamoran hidup dan saling menjaga kegengsian hidup. Nyonya Anton menuju kamar, meninggalkan Jack bersama papanya.

Entah apa yang diperdebatkan antara Bos Anton dan isterinya hingga pada akhirnya Nyonya Anton mulai luluh hatinya. Tidak lagi melarang-larang Jack untuk belajar bersama Ahmad.

Tahun ajaran baru dengan seragam baru, Jack menginjakkan kaki  di kelas barunya. Kelas 10 di Madrasah Aliyah Negeri. Dia berkenalan dengan teman-teman barunya.

“Assalamu’alaikum, namaku Zaki,” Jack mengulurkan tangan.

“Alaikum salam, aku Hamzah. Sepertinya aku kenal kamu deh, bukannya kau puteranya Bos Anton. Kalau tidak salah, kamu Jack kan,?” Hamzah menerima uluran tangan Jack.

“Ssttt! itu masa SMP ku, sekarang di MA aku gunakan nama asliku saja. Zaki,  nama peninggalan kakekku,“ ucap Jack sambil tersenyum.

“Hai.. aku Fatimah,” ucap seorang gadis dari bangku sebelah pintu dengan melambaikan tangan.

Teman-teman Jack begitu ramah. Hingga tidak terasa sudah memasuki tahun ke dua di MAN tersebut. Jack alias Zaki merasa nyaman dengan lingkungan madrasah aliyahnya. Gaya hidupnya disesuaikan dengan lingkungan teman-temannya. Tapi justru itu membuat Jack lebih dikagumi. Dia dikenal sebagai little bos yang rendah hati.

Ahad pagi rumah Bos Anton disibukkan dengan berbagai persiapan. Mereka mengadakan syukuran dengan waktu terjadwal. Sekalian mensyukuri usia Jack yang sudah mencapai 17 tahun. Pukul delapan sampai sepuluh untuk komunitas Bos Anton beserta isterinya. Sedangkan pukul sebelas hingga dua belas untuk teman-teman Jack. Keluarga Bos Anton merasakan keberkahan yang luar biasa semenjak mereka semakin mendekatkan diri pada pencipta-Nya. Ada sentilan Tuhan atas keduniawian mereka lewat peristiwa Jack yang lebih dulu hijrah. Mereka tidak lagi disibukkan kegiatan di luar. Sehingga keakraban keluarga semakin terjalin. Demikian juga keberadaan bibi dan Ahmad sangat mendukung atas kehijrahan keluarga Bos Anton menjadi lebih religius.

“Assalamu’alaikum, Om … Tante …,” Jack menyapa teman-teman papanya dengan mencium tangan mereka.

“Loh, ini Jack ya,?” tanya mereka.

“Perkenalkan nama asli saya. Saya Zaki, Om … Tante …,” Jack menjelaskan kepada mereka dengan sopan dan tersenyum.

Sembari menikmati hidangan yang ada, teman-teman Bos Anton berkasak-kusuk. Terjadi perubahan besar pada keluarga Bos Anton. Semua acara dikemas dalam bentuk religi. Lantunan Al Qur an, hiasan-hiasan rumah yang dulu berupa patung-patung diganti relief-relief kaligrafi. Sungguh menyejukkan hati yang ada dalam ruangan tersebut. Hingga mereka pulang dengan membawa kesan baik atas suasana keluarga Bos Anton. Zaki, remaja anak bos kaya-raya yang sangat santun dan ramah. Menjadi idola teman-teman Bos Anton dan nyonya. Meski tidak semua bisa menerima perubahan keluarga Bos Anton yang menjadi demikian.

Giliran teman-teman Jack datang. Mantan teman SMP dan teman-teman madrasah aliyah. Mantan teman-teman SMP tercengang dengan suasana di rumah Jack. Tidak ada hura-hura di ulang tahun Jack yang ke -17. Justru petuah-petuah ustadz keren, yang mereka terima. Menjadikan mereka kikuk dalam acara tersebut. Namun Jack dengan ramah dan rendah hati mengakrabi semua yang diundang.

Usai sholat Isa’ berjamaah di mushola rumah, keluarga Bos Anton berkumpul di teras belakang. Juga para asisten rumah tangganya. Mereka makan malam sambil melepas penat. Mengevaluasi kegiatan menjamu para tamu. Jack mengucapkan terima kasih kepada papa dan mamanya atas segala perhatian yang telah diberikan kepadanya. Sebaliknya, papa dan mamanya juga mensyukuri kesholihan Jack. Sehingga menyadarkan orang tuanya untuk kembali ke jalan yang benar. Tak lupa bibi dan Ahmad yang mempunyai andil besar dalam kehidupan Jack dan keluarga Bos Anton. Karena itu bibi dan Ahmad tidak lagi dianggap sebagai orang lain. Namun menjadi keluarga yang bisa dipercaya dalam urusan rumah tangga.

“Ma, boleh Zaki bertanya,?” Jack bertanya.

“Tanyalah,!” jawab mamanya.

“Maaf ya, Ma … Kira-kira mama masih malu nggak tentang aku yang sekolah di madrasah,?” tanya Jack.

“Tidak, Nak … mama sudah sadar. Bahwa madrasah yang selama ini mama dan teman-teman mama anggap sebagai sekolah yang ndesa ternyata bisa membentuk karaktermu yang demikian baik. Juga Mas Ahmad yang waktu lalu mama anggap terlalu culun namun begitu sholih. Taat menjalankan perintah Tuhan juga berbakti pada orang-orang di sekitarnya. Luar biasa kalian, menjadikan rumah kita semakin tenteram. In syaa Allah makin banyak keberkahan untuk kita. Begitu kan, Bi,?” nyonya menguatkan penjelasan sambil tersenyum pada bibi.

“Iya, Nyonya … Alhamdulillah… rumah ini seakan surga di dunia. Semoga Allah selalu melindungi kita dalam kesehatan dan keselamatan lahir batin,” jawab bibi.

Suasana dikejutkan dengan nada dering ponsel di bawah pot bunga. Jack dan Ahmad menuju ke sumber suara. Ternyata sebuah ponsel bercassing bunga-bunga. Mereka mengecek, yang baru saja menelpon tercantum nama “bunda”. Mereka penasaran, membuka identitas pemilik ponsel.

“Siapa pemiliknya, Zaki?” tanya papa.

“Wah, ternyata milik Fatimah,” kata Jack sambil tersenyum.

“Cie… Fatimah ni ye…,” ledek Ahmad.

“Memangnya siapa si Fatimah,?” tanya nyonya.

“Mama, boleh ya… aku antar  ponsel ini ke rumahnya,?” tanya Jack.

“Pertanyaan mama belum dijawab kok sudah tanya begitu. Ngantarnya besok saja. Sekarang sudah malam, nggak baik keluar malam. Apalagi ke rumah cewek, “ kata nyonya.

Jack masih terdiam, Ahmad segera menjelaskannya. Bahwa Fatimah adalah teman sekelasnya. Rupanya Jack tertarik padanya karena Fatimah sangat santun dan baik hati.

“Wah… anak mama rupanya sudah mulai jatuh hati ya? Kamu suka gadis sar’i ya, Jack” mamanya tersenyum.

“Za….ki! Zaki, Mama! Bukan Jack. Seorang Jack yang dulu mungkin menertawakan gadis berjilbab. Tapi sekarang aku adalah Zaki. Tentu penilaianku sekarang berbeda dong, Mamaku yang cantik….,” Jack menjelaskan dengan tersipu.

Keluarga Bos Anton melanjutkan candaan mereka hingga tak terasa hari sudah larut malam. Mereka segera membubarkan diri ke tempat peristirahatan masing-masing. Tentu dengan impian masing-masing.

Pagi sekali Jack berpamit ke sekolah. Tidak lupa membawa ponsel yang akan dikembalikan kepada pemiliknya.

“Ini ponselmu tergeletak di bawah pot bunga,” Jack menyerahkan kepada Fatimah.

“Oh, masyaa Allah… terima kasih, Jack… aku mencari ke mana-mana,” teriak Fatimah sambil menangkupkan kedua tanggannya di depan dada.

“Hustttt jangan panggil aku Jack! Sudah ku katakan, aku adalah Zaki,!” Jack meluruskan.

“Baiklah, terima kasih, Zaki,” Fatimah meralat sambil tersenyum.

Dalam hati, Jack berdoa agar suatu saat diberikan pasangan terbaik dari madrasahnya. Karena Jack yakin madrasah merupakan pembuka jalan menuju surga. Untuk orang tua, orang-orang terkasih, dan keluarganya kelak.

Cerita pendek karya Dra. Luluk Nur Rahmawati. Berhasil menyabet Juara 2 Penulisan Cerpen Guru yang diselenggarakan oleh BKMS Kabupaten Kediri pada tahun 2021.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *