Hadiah Untuk Ibu

Oleh : Farhana

“Hasna! Hasna!” Aku tersenyum lebar melihat seorang laki-laki yang tidak asing untukku. Dengan cepat Aku membawa tas besar yang berisi barang-barang milikku untuk dibawa pulang.

“Seneng banget kayaknya yang mau pulang” ucap Ayahku saat Aku mengecup singkat tangan beliau.

“Seneng dong, Yah! Aku punya hadiah spesial buat Ibu sama Ayah.” Tukasku.

Wajah Ayahku terlihat agak murung setelah mendengar kalimat yang Aku lontarkan.

“Kenapa, Yah?” tanyaku memastikan.

“Gak kok, Ayah sama Ibu gak sabar lihat hadiahnya” jawab Ayahku sambil memasukkan tas yang Aku bawa ke dalam bagasi mobil.

“Yuk naik mobil!” Aku mengangguk menuruti perkataan Ayah.

Langsung saja Ayah melajukan mobil berwarna hitam yang sudah menemaninya selama tiga tahun.

***

Aku mulai bersemangat melihat jalanan Bandung yang ramai dengan kendaraan. Langitnya yang membiru membuat pemandangan semakin indah.

“Kayaknya jalan ke rumah bukan ini deh.” Kataku pada Ayah karena merasa asing dengan jalan yang dilewati sedari tadi.

“Ayah mau ngajak kamu ke suatu tempat dulu” Aku tidak menjawab. Aku hanya berpikir, tempat mana yang akan Ayah kunjungi.

Mobil Ayah berhenti, tepat di depan pemakaman. Aku tidak berpikir terlalu berlebihan, mungkin Ayah mengajakku mengunjungi makam kakek dan nenek.

“Hasna, ayo turun dulu!” Aku melepas sabuk pengaman, lalu keluar dari mobil. Berjalan mengikuti Ayah yang entah membawaku kemana.

Aku berdiri kaku, rasanya sudah tidak bisa bergerak lagi. Mataku melotot tidak percaya dengan yang kulihat sekarang. Aku melihat batu nisan bertuliskan nama Ibuku. Wanita yang paling ingin Aku temui sekarang.

“Maaf ya, Hasna, sebenarnya Ibumu sudah meninggal sejak tiga bulan yang lalu. Ayah tidak mengabari karena takut mengganggu kegiatan kamu di pondok” kepalaku mendadak pusing, penglihatan ku mulai menghitam. Aku jatuh pingsan.

***

“Hasna, ayo makan dulu, Nak!” Aku menggeleng. Sejak kemarin Aku belum menelan apapun. Lapar pun sudah tidak terasa lagi.

“Aku pengen sama Ibu, Aku pengen makan masakan Ibu” Ayah menatapku dengan tatapan sendu.

“Ayah taruh makanannya di sini, nanti kalau Ayah kembali harus sudah dimakan!” perintah Ayah yang tidak Aku hiraukan.

Aku merebahkan kembali tubuhku, berusaha untuk tertidur yang sebenarnya sangat sulit Aku lakukan. Tapi mungkin karena kelelahan menangis, pelan-pelan Aku mulai memasuki alam mimpi.

“Hasna…” Ibu mengelus kepalaku yang ditutupi dengan hijab berwarna putih bersih.

“Aku punya hadiah untuk Ibu!” ucapku dengan mata berbinar. Berharap Ibu bangga dengan yang akan Aku berikan.

“Hadiah apa nih?” tanya Ibu.

“Aku sudah jadi Hafidzah bu!” jawabku antusias. Ibu tersenyum tulus, kemudian memelukku.

“Hasna memang anak Ibu yang paling hebat. Ibu sayang banget sama Hasna” Aku membalas pelukan Ibu, disertai dengan air mata yang mengalir.

“Kalau Ibu sayang Hasna, berarti Ibu harus ikut Hasna pulang!” Ibu melepas pelukan.

“Tempat Ibu sudah bukan di sana lagi, Hasna. Walaupun Ibu tidak bisa selalu di samping Hasna, Ibu akan selalu mendukung Hasna, selalu menuntun Hasna, selalu menyayangi Hasna. Mungkin bukan langsung dari Ibu. Tapi Ibu akan senantiasa menyalurkan kasih sayang Ibu kepada orang-orang di sekitar Hasna. Sehingga nanti Hasna tetap bisa merasakan rasa kasih sayangnya Ibu dari orang-orang tadi” tangisku mulai pecah.

“Terus nanti siapa yang bisa mendengarkan Hasna curhat kalau lagi ada masalah?” Aku memeluk Ibuku lagi.

“Jika Hasna mau curhat sama Ibu, Hasna tidur saja. Temui Ibu dalam mimpinya Hasna” Ibu mulai menjadi butiran-butiran permata setelah mengatakan kalimat singkat tadi. Dan Aku hanya bisa menangis melihat Ibu perlahan menghilang.

Aku terbangun. Dengan lahap Aku memakan sepiring nasi lengkap dengan lauknya yang disediakan oleh Ayah. Sekarang, bukan saatnya Aku untuk menyerah. Aku harus bisa terus bangkit dan berjalan demi Ayah, terutama Ibu. Aku yakin Ibu tetap akan terus mendukung setiap langkahku. Dan Aku yakin kasih sayang Ibu tidak akan pernah berhenti sampai hari dimana Ibu pergi. Kasih sayang Ibu akan selalu ada sampai sepanjang zaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *